Cara Jitu Mengganti Popok

Menghadapi bayi atau balita yang “lincah” dan tak bisa diam selagi Anda harus mengganti popok atau membedaki tubuhnya, bukan perkara mudah. Cobalah strategi berikut agar bayi tenang dan terhibur.

1. Mainan kesukaan. Bayi Anda akan sibuk dengan mainan kesukaannya selagi popoknya diganti. Sediakan selalu beberapa mainan yang aman dimainkan, dan menarik perhatiannya setiap diganti popoknya.

2. Tali pengaman bayi. Pegang kuat dan jangan hanya memegang bayi dengan satu tangan. Gunakan tali pengikat yang aman bagi bayi di meja pengganti popok. Ingat, jangan pernah meninggalkan bayi sendirian sedetik pun, meski sudah diikat tali pengaman.

3. Karpet empuk. Pasang karpet empuk di samping meja pengganti popok sebagai antisipasi seandainya bayi terjatuh, akibat geliatannya yang cukup kuat.

4. Pelapis kasur. Jika bayi menggeliat terus dan Anda tak yakin bisa mengganti popoknya dengan nyaman di meja pengganti, letakkan bayi di atas kasur yang sudah dialasi perlak lalu ganti popoknya di situ.

5. Tips lain. Jika bayi atau balita Anda menjadi sangat sulit saat popoknya diganti, coba alihkan perhatiannya dengan cara:
· Mainkan jari Anda naik turun dari kaki ke perut bayi berulang kali.
· Pasang lagu gembira dan gerakkan salah satu tangan anak Anda sesuai irama lagu.
· Gantungkan cermin di dinding samping meja pengganti popok. Arahkan wajah bayi Anda ke cermin, dia pasti akan menikmati wajahnya sendiri.
· Goyangkan mainan dan biarkan ia meraih dan memainkannya. Tukar mainan setiap beberapa hari sekali agar bayi tidak bosan.
· Tiuplah gelembung sabun cair menjadi balon-balon ke udara sebelum melepas popok basah untuk mengalihkan perhatian bayi.
· Sebutkan nama-nama anggota tubuh, seperti mata, hidung, telinga, atau perut sambil menyentuhkan tangannya ke anggota tubuhnya, agar bayi tak memegang popok basahnya.
· Mainkan ekspresi agar perhatiannya tertuju pada wajah Anda, dan bukan pada popok yang sedang dipasangkan padanya.
· Gantungkan balon warna warni di atas meja. Jika ia terlihat bosan, gantung mainan lain yang menarik perhatiannya.
· Pasangkan sarung tangan pada salah satu atau kedua tangan bayi Anda saat popoknya sedang diganti.
· Biarkan balita Anda melepaskan sendiri popok basahnya. Biarkan ia mengambil popok baru dan melepas perekatnya, serta memakainya sendiri. Ia pasti senang melakukannya.
· Yang terakhir, Anda harus bersabar ketika ia mulai ingin belajar mengganti popoknya sendiri, ketika ia sudah bisa berdiri dan berjalan

Dipublikasi di anak | Tinggalkan Komentar

Stop Kekerasan pada Anak!

Kekerasan terhadap anak dapat terjadi di mana saja. Di sekolah, rumah, atau lingkungan tempat bermain. Dari dipukul, dibentak, dimintai uang secara paksa, dijegal sepulang sekolah hingga dilecehkan secara seksual.

Untuk mengatasi kondisi ini, menurut Rahmitha P. Soedojo, Psi. psikolog yang aktif di Peduli Anak Bogor ini, kuncinya adalah menumbuhkan kepercayaan diri pada anak agar memiliki posisi yang kuat di hadapan orang lain sehingga dapat mengantisipasi segala hal yang memungkinkan untuk mengarah pada kekerasan terhadap dirinya, di mana pun ia berada.

PENDENGAR YANG BAIK
Orangtua dituntut menjadi pendengar yang baik dan pendukung terbesar bagi anak ketika ia sedang dirundung masalah. Misalnya, ada anak perempuan mendapatkan pelecehan seksual di sekolahnya, yang harus ditunjukkan kepadanya, yaitu menerima dan memercayai apa yang ia ceritakan dengan sikap tenang.

“Jangan menginterogasinya dengan nada panik atau marah. Anak justru akan semakin diam dan tak mau bicara. Ia pun akan merasa apa yang diucapkannya itu merupakan kesalahannya,” kata Mitha.
Setelah itu, telusuri apa yang terjadi dan berikan dukungan untuk mengatasi rasa takut yang dialaminya. Serta jauhkan anak dari si pelaku.

Jangan lupa, laporkanlah ke pihak atau lembaga yang memiliki kompetensi untuk memberi bantuan dan perlindungan hukum kepada anak, seperti KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia), Komnas Anak, atau LBH APIK.

Anak yang mengalami kekerasan seksual biasanya akan mengalami trauma dan perubahan sikap. Anak yang tadinya ceria bisa berubah jadi pendiam, menarik diri dari lingkungan dan teman-temannya, dan prestasi di sekolahnya menurun.

LINGKARAN SETAN
Tindak kekerasan, kata Mitha, seperti lingkaran setan. Anak yang kerap mendapat hinaan, ejekan, bentakan, cacian, kekersan fisik, suatu saat dia akan menjadi pelaku kekerasan terhadap temannya, anaknya, dan orang lain. Lingkaran inilah yang harus diputus dengan cara menghentikan kekerasan dalam bentuk apa pun.

TIPS
1. Lihat potensi anak dan tumbuhkan rasa percaya dirinya.
2. Ajari anak untuk selalu bicara terbuka dengan cara tidak menginterogasinya. Jangan beri hukuman dengan kekerasan.
3. Dengarkan ceritanya dengan tenang dan penuh perhatian.
4. Jika anak merasa tidak nyaman saat berada di suatu tempat, ajari untuk bicara terbuka dan menjauh dari tempat itu.
5. Tanamkan pada anak arti “Don’t talk to stranger!”.
6. Beri batasan, bagian tubuh mana saja yang bisa disentuh orang lain, siapa saja yang berhak menciumnya.
7. Sebarkan flyer dengan isu anti kekerasan sesering mungkin. Cantumkan juga nomor-nomor penting yang mudah dihubungi jika ada tindak kekerasan terhadap anak.

Dipublikasi di anak | Tinggalkan Komentar

Antisipasi Demi Balita Anda!

Anak usia balita yang sedang belajar berjalan cenderung mencoba-coba memanjat dan meraih barang yang menarik perhatiannya. Jika Anda atau babby sitter lalai mengawasinya, bisa saja sang buah hati terjatuh dari tempat ketinggian atau tertimpa barang berat.

Ada beberapa cara antisipasi yang bisa Anda ikuti agar Si Kecil bebas berjalan ke sana-ke mari, tanpa perlu cemas lagi.

1. Jauhkan Si Kecil dari jendela dan alat-alat rumah tangga (furnitur) yang mudah dipanjat olehnya. Untuk sementara waktu, singkirkan pajangan kayu, marmer, keramik berbobot berat yang bisa menimpa balita Anda.
2. Usahakan tali penarik kain gorden tak sampai menjuntai ke lantai sehingga mudah diraih tangan mungil Si Kecil. Usahakan kain atau tali yang menjuntai ke lantai, dipindahkan ke tempat lebih tinggi dan tersembunyi dari penglihatan balita Anda.
3. Pasang alat pengaman (alarm) dekat jendela atau pintu. Jika terjadi sesuatu, Anda mudah menemukan posisi Si Kecil, sehingga bisa segera menjauhkannya dari area itu, yang mungkin membahayakan dirinya.
4. Jika tak memiliki alarm, bukalah pintu atau jendela seperlunya saja. Ajarilah putra putri Anda agar tak selalu mendekati jendela atau pintu yang bisa mengakibatkannya terjatuh dari jendela atau terjepit pintu.

Dipublikasi di anak | Tinggalkan Komentar

13 Cara Komunikasi Terpuji Suami-Istri

komunikasi

Ada beberapa hal yang dapat membantu kita untuk berkomunikasi lebih baik, yaitu dengan cara yang penuh kasih, enak didengar, serta efektif.
1. Jangan suka berasumsi
Berkomunikasi (yang baik dan benar) tidak mudah. Terutama dalam situasi yang sulit atau sensitif. Jadi, jangan menginterpretasikan atau mengasumsikan bahwa Anda tahu persis pikiran dan maksud lawan bicara. Lebih baik tanya, minta penjelasan atas apa yang diutarakan untuk memastikan Anda mengerti apa yang disampaikan.
2. Selalu merasa paling benar
Tujuan berkomuniasi adalah untuk saling mengerti. Bila tujuan berkomuniasi untuk membuktikan bahwa Anda (yang paling) benar, Anda hanya akan merusak hubungan dengan lawan bicara. Hal ini umum terjadi dan merupakan perilaku yang sangat merusak. Jangan pernah berkomunikasi hanya karena ingin menjadi yang paling benar. Percayalah, hal ini tidak akan berhasil.
3. Mengungkit masalah lama
Jangan mengungkit-ungkit persoalan yang sudah lewat, kecuali memang diperlukan untuk memberikan penjelasan. Tidak ada alasan bagi Anda untuk membicarakan permasalahan lama. Bila mempunyai masalah dengan sesuatu yang dilakukan pasangan, yang terbaik Anda lakukan adalah langsung mengatakannya saat itu juga padanya.

Atau paling tidak, pada saat yang tepat, atau beberapa saat sesudah kejadian berlangsung. Jangan menundanya terlalu lama. Bila diminta memberi contoh atas ucapan atau sikap yang Anda keluhkan dan Anda tidak dapat mengingatnya secara rinci, katakan kepadanya, Anda akan menyampaikannya bila hal serupa terjadi kembali.
4. Minta dipuji
Sama halnya dengan sikap mau menang sendiri, bila tujuan berkomunikasi untuk memperoleh pujian, hal ini justru hanya memperlihatkan sikap egois Anda dan komunikasi yang baik dan lancar tidak akan berhasil. Anda ingin dipuji? Anda hanya perlu menyadari bahwa Anda telah melakukan sesuatu yang benar dan melakukannya dengan tulus untuk mengerti pikiran dan perasaan orang lain.

Termasuk perasaan pasangan. Dengan demikian Anda akan merasa puas. Tidak perlu mengharapkan pujian dari pasangan atau orang lain, karena sikap ini memperlihatkan ketidaktulusan Anda.
5. Menguniversalkan pendapat pribadi
Hal ini merupakan kesalahan yang sering terjadi. Semua orang pasti pernah dan sering melakukannya. Bila membuat pernyataan yang memperlihatkan semua orang di “kelas”, kelompok, atau keluarga Anda dan merasa mereka punya pikiran yang sama, berarti Anda menguniversalkan pendapat pribadi. Contohnya, Anda mengatakan, “Semua orang sudah tahu” atau “Orang-orang tahu, kok, apa yang saya katakan pasti benar.”

Sebetulnya, saat Anda menguniversalkan pendapat pribadi sama dengan tengah berusaha untuk dibenarkan atau ingin dapat pujian. Cara yang lebih baik untuk memberikan respon adalah dengan mengatakan “Saya tidak tahu bagaimana pendapat yang lain mengenai hal ini, tetapi menurut saya biasanya orang memerlukan latihan berkomunikasi yang lebih baik.”
6. Jangan bikin pasangan bingung
Sangat penting untuk menyadari bahwa dengan siapa pun kita berhadapan, kita harus berpikiran positif dan menyadari bahwa lawan bicara berusaha jujur dalam berkomunikasi dengan Anda walaupun cara yang digunakan dan diperlihatkannya mungkin terbatas dan tidak efektif. Setiap orang dapat melakukan kesalahan. Bahkan kadang kesalahan yang serius.
Dari waktu ke waktu, orang berada dalam situasi yang membuatnya marah dan menyebabkan dia melakukan suatu tindakan yang akhirnya disesalinya atau disadarinya tidak berguna dan tidak perlu. Bila melihat apa yang telah dilakukan, biasanya seseorang cenderung untuk berperilaku lebih baik.

Di dalam situasi yang tegang dan panas, sangat penting untuk tidak membuat orang bingung dengan tindakan dan sikap yang disengaja. Tiap orang bisa saja melakukan hal-hal yang tidak baik, tetapi tidak berarti orang tersebut bukan orang yang baik. Anda harus dapat membuat perbedaan bila tujuan berkomunikasi adalah untuk dapat memecahkan permasalahan dari konflik-konflik yang terjadi.
7. Membandingkan
Perlakukan setiap orang sebagaimana Anda ingin diperlakukan. Sikap membeda-bedakan hanya akan merusak komunikasi antara Anda dan lawan bicara. Ingat, tindakan lebih keras daripada kata-kata. Bila mengatakan suatu hal dan bersikap sebaliknya atau bila berperilaku berdasar prinsip yang Anda terapkan kepada orang-orang di sekitar tetapi tidak Anda terapkan kepada diri sendiri, maka kontradiksi ini akan tampak dan membuat orang tersinggung dan marah.
8. Berperilaku negatif yang dramatis
Hal ini hanya akan menambah api di dalam sekam, terutama bila komunikasi yang berlangsung merupakan komunikasi penting dan peka. Yang diperlukan adalah ketenangan, kepala dingin, dan membicarakan masalah tanpa rasa marah.
9. Menggunakan bahasa negatif
Bahasa emosional yang negatif seperti, “Kamu tidak pernah mendengar apa yang saya katakan” atau “Kamu selalu mengatakan itu” atau “Kamu betul-betul membenci saya” atau “Kamu memang tidak mau mendengar” semua ini merupakan contoh bahasa emosional yang negatif. Bahasa ini tidak memberikan jalan keluar.

Jangan ucapkan kata-kata seperti “tidak pernah” dan “selalu” bila berbicara. Sebaliknya, katakan “Kadang-kadang saya merasa kamu tidak terlalu memperhatikan apa yang saya katakan. Apa pendapat kamu mengenai apa yang saya katakan tadi?”. Dengan demikian Anda akan mengetahui apakah lawan bicara memperhatikan atau tidak apa yang Anda katakan.
10. Tidak menghargai sikap positif
Kesalahan seperti ini juga sering dilakukan. Misalnya, Anda minta pasangan atau lawan bicara untuk mengubah nada suaranya bila berbicara dengan Anda. Anda memintanya agar berbicara lebih manis.

Bila akhirnya pasangan atau lawan bicara mengikuti kehendak Anda, Anda justru mengatakan, “Tumben kamu baik, jangan-jangan ada sesuatu yang kamu mau. Kamu pikir saya bodoh!” Banyak sekali contoh mengenai hal ini. Oleh karena itu, bila Anda meminta sesuatu dan akhirnya mendapatkannya, hargai dan jangan mencelanya. Sebaliknya, katakan terima kasih karena ia telah bersedia memenuhi permintaan Anda. Hargai usahanya.
11. Sama dan sejajar
Contohnya, Anda berbicara dengan pasangan dan pembicaraan menjadi semakin sulit dan mulai bersitegang. Pada saat Anda mengatakan dia memperlihatkan sikap yang bermusuhan, responnya justru Anda yang memperlihatkan sikap demikian padanya. Lalu pada saat Anda bertanya kepadanya, “Perilaku saya yang bagaimana yang membuat kamu merasa terganggu?”

Lawan bicara hanya mengatakan bahwa pertanyaan yang Anda ajukan merupakan pertanyaan yang bodoh dan dia tidak mau membicarakannya. Jangan berkomunikasi untuk mendapatkan persamaan atau untuk membalas dendam. Hal ini tidak akan berhasil dan efeknya adalah merusak hubungan. Bila merasa salah, minta maa dan minta ia mengoreksinya. Misalnya, “Saya merasa tidak senang kalau kamu menaruh baju kotor ddi atas tempat tidur. Lain kali jangan lakukan lagi, ya.”
12. Berbohong
Apakah Anda senang bila dibohongi? Apakah Anda berharap orang yang dekat dengan Anda berbohong pada Anda? Jawabannya pasti “Tidak”. Oleh karena itu, pastikan Anda jujur. Dengan cara ini, otomatis Anda memberi contoh dan memberi gambaran ingin agar orang di sekitar Anda jujurpada Anda dan bila tidak, Anda berhak untuk mengeluh. Tetapi bila Anda tidak jujur maka Anda tidak berhak untuk mengeluh. Kejujuran merupakan cara yang terbaik dan hanya satu-satunya cara untuk meyakinkan bahwa Anda mendapatkan apa yang Anda perlukan.
13. Membiarkan campur tangan dari luar
Bila situasi menjadi lebih keruh dan harus diatasi, bicarakan langsung pada pasangan. Terutama bila ada hal yang perlu Anda jelaskan agar tidak terjadi kesalahpahaman. Tidak ada gunanya membicarakan masalah seseorang kepada orang lain sebelum Anda menyelesaikan permasalahannya dengan orang yang bersangkutan.
Aline

Dipublikasi di pasangan | Tinggalkan Komentar

4 Kategori Selingkuh

Walaupun ada beberapa alasan mengapa perselingkuhan terjadi, kebanyakan dikelompokkan menjadi empat kategori.

1. Rasa tak puas
Bila salah seorang pasangan merasakan ketidakpuasan dengan hubungan yang sedang dia jalani, perselingkuhan merupakan cara yang tidak disadarinya untuk melarikan diri dari masalah yang sedang dihadapinya.

2. Pelarian
Perselingkuhan merupakan cara untuk melepaskan diri dari hubungan yang sedang dijalani. Daripada menyelesaikan masalah secara langsung, perselingkuhan akan memacu putusnya hubungan tersebut.

3. Petualangan
Perselingkuhan yang dilakukan secara diam-diam, melahirkan tantangan tersendiri dan meningkatkan gairah. Hubungan seks yang begitu menggairahkan dengan seseorang yang baru dan “segar” jadi amat susah dihindari.

4. Sifat poligami
Perselingkuhan jenis ini dapat berlangsung lama dan mungkin dilakukan berulang kali. Ada orang yang merasa susah untuk terikat hanya pada satu orang saja. Mereka merasa dipenjara dengan hubungan yang monogami dan mereka tidak mau hanya terlibat pada satu orang saja. Memiliki orang ketiga dapat merupakan tempat untuk menumpahkan masalah sulit yang dihadapi.

Dipublikasi di pasangan | Tinggalkan Komentar

Jika Suami Suka Memukul

Kekerasan oleh suami terhadap istri seperti tak pernah habis. Selain fisik, ada beberapa bentuk kekerasan dalam rumah tangga. Apa dan kenapa itu masih juga terjadi?

Rasanya, belum sirna dari ingatan, betapa wajah Nur Afni Oktavia yang lebam dan membiru terpampang di berbagai media cetak maupun elektronik akibat penganiayaan yang dilakukan mantan suaminya, Edwin Rondonuwu. Kini, peristiwa serupa terulang lagi. Kali ini korbannya adalah Nurul Hidayati, istri pimpinan rumah produksi Starvision, Chand Parwez Servia. Wanita berparas ayu ini mengalami luka di bagian kepala dan mata, bahkan harus mendapat 4 jahitan.

Ya, kasus penganiayaan yang dilakukan suami terhadap istri bukan sekali-dua kita dengar, namun berulangkali. Menurut Asnifriyanti Damanik, S.H., Wakil Ketua Pengurus LBH-APIK (Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan), apa yang dialami Nurul hanyalah salah satu contoh Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT). Data di LBH-APIK menyebut lebih dari 100 kasus yang berakar dari KDRT. Kebanyakan, korbannya berpendidikan SMA. “Yang berpendidikan SD atau tidak sekolah malah sangat jarang.” Asni menduga, ini karena mereka tidak tahu cara mengakses ke lembaga bantuan hukum.

Selain soal akses, pemahaman tentang KDRT di masyarakat juga menjadi kendala. “Kebanyakan masyarakat masih menganggap itu adalah urusan rumah tangga, jadi tidak mau turut campur. Terutama jika menyangkut kekerasan fisik oleh suami.”
Sebenarnya, tak cuma kekerasan fisik yang termasuk KDRT. Setidaknya ada 4 bentuk KDRT:

1. Kekerasan fisik
Adalah segala perbuatan suami yang menimbulkan rasa sakit atau luka pada istri. Para korban mengaku ada yang dipukul, ditendang, diseterika, disundut dengan rokok, kepala dibotakin sampai disiram air keras.

2. Kekerasan psikis
Yaitu tindakan suami yang mengarah pada kondisi istri (korban) merasakan ketakutan. “Istri menjadi tertekan, lalu depresi, karena ruang geraknya jadi terbatas dan tak lagi merasakan kebebasannya sebagai individu.” Contohnya pernyataan suami pada istrinya, “Kamu, kan, hidup menumpang.” Atau suami mengancam istri untuk tidak ke luar rumah, dan kalau melanggar, harus menanggung akibatnya.

3. Kekerasan seksual
Ini lebih ke arah pemaksaan hubungan seks. Apalagi sekarang banyak yang mengajarkan cara atau teknik berhubungan seks melalui VCD atau media lain. Akibatnya, suami ingin menerapkannya tanpa kesepakatan dengan sang istri lebih dulu. Akibatnya, istri mengalami tekanan batin. Di satu sisi, mereka merasa jijik, tapi di sisi lain takut ditinggalkan suami jika menolak.

4. Kekerasan ekonomi
Adalah bentuk kesulitan ekonomi yang dialami oleh istri karena suami tidak memberi nafkah. Misalnya, setiap hari istri dijatah Rp 10 ribu untuk keperluan rumah tangga. “Cukup nggak cukup, harus cukup. Bahkan, ada yang tiap bulan harus bikin laporan keuangan, berapa pemasukan dan pengeluaran keluarga.”

Biasanya, apa yang dilakukan suami semata-mata karena latar belakang keluarganya. Salah satu contoh, ibu sang suami sangat royal, sehingga sang ayah-lah yang mengontrol keuangan keluarga. “Nah, ia sering mendengar keluhan ayahnya tentang sifat perempuan yang boros dan suka menghambur-hamburkan uang. Inilah yang kemudian diterapkan pada istrinya.”

Hal lain yang masuk kategori ini adalah larangan untuk bekerja. “Jika ini disepakati bersama, tidak ada masalah. Yang jadi masalah, sebelum menikah, calon suami sudah memberi syarat, jika sudah menikah, istri harus berhenti bekerja dan mengurus keluarga saja. Ketika rumah tangga mengalami kesulitan ekonomi, suami tetap bersikukuh istri tidak boleh bekerja.” Menurut Asni, dalam kondisi apa pun, istri memiliki hak untuk bekerja, apalagi jika ia punya keahlian.

PEREMPUAN ADALAH MANUSIA JUGA Ketidakmengertian akan bentuk KDRT ini sering membuat para istri tak mengerti apa haknya dalam rumah tangga. “Padahal, sebagai manusia, hak istri dan suami itu sama.” Dengan kata lain, mereka itu setara, seperti yang tertuang dalam Konvensi Penghapusan segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan, yang telah diratifikasi oleh Indonesia melalui UU No 7/1984, dan berlaku sebagai hukum nasional. Isinya, persamaan hak antara laki-laki dan perempuan dalam segala bidang. Adapun hak perempuan yang terkait langsung dengan perannya sebagai seorang istri, antara lain: 1. Hak untuk menentukan jarak kelahiran anak dan kehamilan “Menyangkut kehamilan, istri punya hak, karena dia-lah yang punya tubuh untuk hamil,” tegas Asni. Istri berhak menentukan kapan melahirkan dan punya anak. “Mau tiap tahun melahirkan atau tidak, terserah dia. Istri juga berhak memilih alat kontrasepsi yang akan dipakai.” 2. Hak menentukan kewarganegaraan anaknya UU No 62/1958 mengatur bahwa jika perempuan WNI menikah dengan pria WNA, sang anak otomatis menjadi WNA. Dan sebaliknya, jika perempuan WNA menikah dengan pria WNI, maka sang anak akan menjadi WNI, mengikuti garis keturunan ayah. “Istri tidak punya hak untuk menentukan kewarganegaraan anaknya.” Ini dilematis, sebab dalam UU terbaru tahun 1984, istri juga punya hak atas kewarganegaraan anaknya. “Pemerintah belum mencabut UU tahun 1958, padahal menurut UU tahun 1984, kewajiban negara adalah mengubah dan mencabut UU yang mendeskriminasikan perempuan serta mencipatakan UU yang non-diskriminatif,” tegas Asni. 3. Hak yang menyangkut harta Istri punya hak dalam tindakan perdata, seperti melakukan perjanjian dagang dengan pihak lain. Selain itu, istri juga memiliki hak yang sama dengan suami mengenai harta bersama, seperti menentukan, memiliki dan menguasai harta tersebut. Contohnya, istri bisa membatalkan perjanjian antara suami dan pembeli, jika suami menjual mobil tanpa sepengetahuan dirinya. “Istri cukup membawa buku nikah sebagai bukti.” 4. Hak untuk mengajukan perceraian Ini telah diatur dalam UU No 1/1974, dengan syarat-syarat yang diatur dalam PP No 9/1975. Di dalamnya, terdapat 6 syarat perceraian, antara lain salah satu pihak pemabuk, suka berjudi, suami meninggalkan istri selama 2 tahun berturut-turut tanpa diketahui/telah pisah, suami mendapat hukuman pidana selama 5 tahun lebih, suami melakukan perzinaan, suami melakukan kekerasan, serta karena percekcokan yang terus menerus sehingga kedua belah pihak tak bisa disatukan lagi. 5. Hak untuk mendidik dan memelihara anak Suami maupun istri memiliki hak yang sama untuk mendidik dan memelihara anak. Misalnya, ketika anak akan masuk sekolah, harus ada diskusi terlebih dulu antara keduanya. 6. Hak untuk mengetahui penghasilan suami Pasalnya, bisa jadi kesepakatan mereka adalah suami yang bekerja. Dengan demikian, istri berhak tahu informasi keluar-masuknya uang. “Sering para istri bilang, yang penting saya tercukupi.” Bagaimana jika misalnya suami tiba-tiba meninggal akibat kecelakaan, sementara istri tidak tahu bahwa gaji suaminya selama ini didepositokan. Padahal, istri tetap harus menghidupi anak. Inilah yang kadang tidak dipikirkan jauh-jauh hari oleh perempuan. GUNAKAN PELUANG HUKUM Hak-hak yang tidak diterima istri dengan semestinya ini memungkinkan mereka untuk meminta perlindungan. Saran Asni, jika istri mengalami KDRT, apa pun bentuknya, segeralah melapor ke polisi terdekat. Alternatif lain adalah mendatangi Lembaga Bantuan Hukum (LBH) atau kantor LSM yang peduli terhadap masalah hak-hak perempuan atau istri. Dukungan keluarga besar suami juga sangat penting. “Dari kasus yang saya temui, kebanyakan orang tua suami sudah tahu perilaku anaknya yang suka main tangan. Tapi, mereka bukannya memberi dukungan pada menantunya untuk melapor, tapi justru bilang, terserah kalau mau cerai, yang penting anak lelaki mereka tidak dilaporkan ke polisi. Inilah yang akhirnya semakin menyulitkan pihak perempuan.” Akan lebih baik jika ada saksi yang langsung cepat menindak dan mendukung korban. Karena itu, “Peran masyarakat, terutama Ketua RT sangat penting. Masyarakat memang harus diikutsertakan jika kita berniat meminimalisir KDRT. Ini perlu dalam rangka menekankan bahwa kekerasan terhadap perempuan adalah kejahatan terhadap kemanusiaan.”

Dipublikasi di pasangan | Tinggalkan Komentar

Ketika Si Kecil di Luar Kendali

Agus Dwiyanto

Berikut ini 8 perilaku anak-anak yang memusingkan, dilengkapi dengan saran mengenai cara menghadapinya.

1. Mengganggu saudara
“Anak laki-laki saya yang berusia 8 tahun mengganggu adik perempuannya yang berusia 3 tahun. Dia memukul dan memegang adiknya atau merebut mainan kesayangan adiknya sampai adiknya menjerit-jerit.”
Pada dasarnya saling mengganggu adalah bagian yang wajar yang dialami oleh kakak beradik, dan biasanya merupakan salah satu cara untuk terikat satu sama lainnya. Kakak beradik saling mengganggu karena mereka merasa cukup nyaman untuk mengatakan atau melakukan apa saja yang tidak mungkin mereka lakukan dengan orang lain atau dengan teman.

Pusatkan perhatian Anda pada siapa yang mengganggu pertama kali, lalu katakan kepada yang diganggu untuk tidak mempedulikan yang mengganggu. Untuk yang mengganggu, cobalah beberapa teknik modifikasi perilaku, misalnya bila dalam tiga hari dia tidak mengganggu saudaranya, Anda akan membelikan es krim kesukaannya.

2. Melempar
“Anak laki-laki saya yang berusia 22 bulan selalu melempar makanan atau mainan ke saya.”
Setiap anak senang melempar makanan karena dirasakan mengasyikkan, atau karena dia sudah merasa kenyang. Tetapi dapat juga karena dia ingin memancing Anda agar berada lebih lama lagi dengannya.
Mungkin juga dia lelah atau cemburu karena Anda tidak memperhatikannya. Bila dia melempar, katakan dengan tegas, “Kita tidak melempar,” dan ambil mainan yang dia lempar atau pindahkan sehingga dia tidak melempar lagi.

3. Rewel
“Anak perempuan saya yang berusia 5 tahun merengek dan rewel. Saya tidak pernah meloloskan permintaannya bila dia histeris, tetapi dia tidak berhenti merengek.”
Bisa jadi anak perempuan Anda tergila-gila dengan peran di sinetron yang hampir setiap sore ditontonnya. “Bahkan jika Anda tidak menanggapi histerisnya dengan memberikannya sesuatu – seperti permen di kasir di supermarket – perhatian negatif Anda tetap dapat membuat dia bertingkah aneh.
Di rumah, katakan kepadanya bahwa Anda akan mendengarkannya bila dia sudah tenang, lalu tinggalkan. Bila di muka umum, tarik dia dari keramaian dan katakan kepadanya “Karena kamu bersikap tidak pantas maka sekarang kita pulang”. Dia pasti akan tetap mencoba tetapi bila Anda konsisten, lain waktu dia bersikap rewel lagi dan Anda mengancam akan pulang, dia pasti akan diam dan patuh.

4. Membuat berantakan
“Anak laki-laki saya yang berusia 8 tahun tidak pernah merapikan mainannya sehabis bermain. Mainan, baju, piring, sepatu – semuanya dibiarkan begitu saja sesudah dipakai. Saya lelah berteriak.”
Oleh karena itu jangan lagi berteriak. Anak Anda tidak mendengarkan apa yang Anda katakan selain merasa terganggu dengan teriakan Anda. Anak-anak menjadi sembrono karena mereka memang sembrono, atau karena orangtua-lah yang menyebabkan mereka menjadi sembrono. Orangtua selalu membereskan segala sesuatu untuk mereka. Sebaiknya tentukan sistem ganjaran yang tegas dan konsekuen (misalnya tidak boleh menonton film kegemaran mereka bila belum rapi).

5. Menggigit
“Anak saya yang berusia 14 bulan sering sekali menggigit saya. Saya coba mengalihkan perhatiannya tetapi dia tetap tidak berhenti menggigit dan saya merasa takut dan khawatir dia akan mulai menggigit orang lain.” Menggigit sebenarnya merupakan hal yang wajar – banyak bayi yang menggunakan agresi fisik sebagai cara berkomunikasi. Mungkin dia memerlukan makanan ringan atau ingin tidur atau frustrasi karena dia tidak dapat cocok dengan situasi dimana dia berada.

Lain kali jika dia menggigit, berikan reaksi yang konsisten, cepat dan kelabui. Katakan dengan tegas “Tidak boleh menggigit!’ lalu keluar dari situasi, ulangi setiap kali gigit menggigit terjadi dengan melakukan trik yang sama. Bila bayi kecil Anda menggigit bayi lain? Cepat-cepat dekati si korban agar anak Anda mengerti bahwa menggigit tidak baik.

6. Telanjang di malam hari
“Anak saya yang berusia 2 tahun tidak mau pakai baju. Setiap malam dia selalu menarik pampersnya sehingga pagi-pagi saya selalu mendapatkan boksnya basah dan piyama serta pampersnya di sudut boks.”

Bayi sangat senang mempraktekkan setian keterampilan yang baru diterimanya. Termasuk membuka pampers. Hanya ada satu cara: kenakan double tape. Anda dapat memasang double tape di pampers agar tidak dapat dibuka olehnya.

7. Mengucapkan “Benci!”
“Anak laki-laki saya yang berusia 3 tahun mengatakan, “Saya benci kamu!” kepada saya, ayahnya, bahkan neneknya.” Bila anak Anda mengatakan dia membenci Anda, untuk saat itu dia tidak main-main. Tetapi dia tidak bermaksud membenci Anda selamanya; biasanya dia membenci Anda karena sesuatu yang Anda lakukan kepadanya (melarangnya bermain Play Station pada saat seharusnya belajar).

Kuncinya adalah mengarahkan pada apa yang menyebabkan anak Anda mengatakan “Saya benci kamu,” untuk mengantisipasinya. Di usia ini dia tidak dapat memberikan alasan mengapa, terutama bila emosinya sedang naik. Katakan kepadanya, “Mama sudah membuat kamu marah, tetapi kamu tetap tidak boleh makan permen ini.” Bila anak Anda sudah lebih tenang, bicarakan dengannya mengenai bagaimana kata-kata “benci” dapat menyakiti hari orang lain.

8. Hobi melamun
“Pada saat sedang melakukan sesuatu, anak perempuan saya yang berusia 7 tahun melamun kemana-mana – memutar botol shampo di wastafel atau menulis dengan menggunakan marker di dinding kamar makan. Apa yang harus saya lakukan?”

Pertama-tama pastikan tidak ada alasan fisik mengapa pusat perhatian anak Anda tampaknya terganggu. Apakah dia cukup tidur? Apakah mungkin dia mengalami masalah dalam sistem syarafnya? Bila perubahan yang terjadi pada dirinya sangat mencolok, segera konsultasikan dengan dokter anak. Melamun biasanya tidak berbahaya dan merupakan fase peralihan.

Bila tidak ada kerusakan yang berarti pada barang milik pribadi Anda katakan kepadanya Anda tidak senang bila dia terlalu banyak melamun tetapi jangan bawa masalah tadi sebagai sesuatu yang serius. Manfaatkan kebiasaan melamunnya tadi untuk mengecek realitanya. Oleh karena itu bila anak perempuan Anda melakukan sesuatu yang positif, misalnya menggambar pelangi dengan warna yang indah dengan menggunakan marker di dinding kamar makan, berikan pujian.

Dipublikasi di anak | Tinggalkan Komentar

10 Cara Agar Anak Curhat

Kita sering merasa frustrasi menghadapi anak yang tidak mau menceritakan suka dukanya kepada mereka. Ini tidak hanya terjadi pada anak-anak remaja, tapi juga yang masih balita. Nah, kenapa tak mencoba menerapkan salah satu dari 10 ide berikut agar buah hati mau bicara?

1. Jangan memaksa
Jangan sesekali memaksa mereka. Semakin kuat Anda memaksa mereka untuk berbicara atau bercerita, mereka akan semakin menutup diri. Bila Anda bersikap lebih santai, mereka mungkin akan lebih mudah mengungkapkan persoalan mereka.

2. Selalu ada buat mereka
Jangan salah, anak-anak cukup peka terhadap aktivitas Anda. Bila Anda tampak sibuk, mereka berusaha tahu diri. Tapi bila mereka melihat memiliki waktu untuk diri Anda sendiri dan untuk mereka, mereka akan merasa nyaman untuk berbicara dengan Anda.

3. Libatkan diri
Coba mulai melibatkan diri dengan cara beraktivitas bersama mereka. Misalnya, ikut bermain basket, main monopoli, bersepeda. Dengan bermain bersama, kemungkinan saling bercerita makin terbuka.

4. Tidak bersikap menghakimi
Bila Anda bersikap menghakimi pada saat mereka berbicara, di lain waktu mereka pasti tidak berminat untuk menceritakan apa yang mereka alami pada Anda. Tunjukkan keingintahuan dan rasa penasaran Anda pada apa yang mereka ceritakan dan usahakan tidak memberi komentar “benar” atau “salah”.

5. Kiat bertanya
Pertanyaan yang dimulai dengan kata “Mengapa”, cenderung menciptakan pertahanan diri. Pertanyaan dengan jawaban “ya” atau “tidak”, tidak akan memberikan respons yang banyak. Belajarlah menggunakan pertanyaan-pertanyaan yang menstimulasi pembicaraan semisal, “Apa yang kamu perhatikan dari lukisan itu?” merupakan pancingan yang lebih baik daripada, “Kamu senang atau tidak dengan lukisan itu?”

6. Mobil sebagai tempat untuk ngobrol
Saat mengantar atau menjemput mereka ke sekolah atau ketika bersama-sama ke suatu tempat, ajak mereka berbicara. Di dalam mobil, kecil kemungkinan bagi Anda dan anak untuk mendapat gangguan seperti tamu yang tiba-tiba datang atau ia cuma asyik di depan komputer/ teve.

7. Beri respons
Mengetahui Anda mendengarkan dan memperhatikan apa yang mereka ceritakan, akan membuat mereka merasa mendapat dukungan dari Anda dan membuat mereka bersemangat untuk bercerita lebih banyak lagi.

8. Libatkan dengan hobi anak
Ajak anak berbicara pada saat mereka sedang menggambar, mewarnai, atau melukis. Cara ini cukup ampuh untuk anak-anak Anda yang masih kecil. Lewat aktivitas yang dapat membuat mereka mengekspresikan diri, juga akan memberi kesempatan kepada anak untuk mengekspresikan apa yang mereka rasakan pada Anda. Dengan menggabungkan diri pada kegiatan tadi, Anda menjadi lebih peka untuk berbagi cerita dengan anak.

9. Sediakan kesempatan untuk bersenang-senang
Bila anak merasa Anda menyediakan waktu beraktivitas bersama mereka, apapun kegiatannya, percayalah, mereka akan dengan senang hati berbagi cerita dengan Anda. Tapi jangan lupa, jadilah pendengar yang baik.

10. Jadilah orang tua dan teman bagi mereka
Bila Anda dapat bersikap sebagai orangtua dan teman pada saat mereka bercerita maka hal ini dapat memelihara keinginan anak untuk selalu berbagi cerita dengan Anda. Jangan bersikap kaku dan sok jaga wibawa.

Dipublikasi di anak | Tinggalkan Komentar

9 Kalimat yang Ditakuti Lelaki

Pernah merasa penasaran dengan apa yang dibicarakan sesama pria mengenai wanita? Yang jelas, ada beberapa ucapan yang tidak pernah ingin didengar pria dari pasangannya.
Salah satu kalimat atau ucapan itu adalah, “Kita pergi ke mal, yuk!” Soalnya, itu berarti dia harus menghabiskan waktu dengan menunggu pasangan yang sedang sibuk mencoba gaun di kamar ganti pakaian! Kalimat atau sikap apa lagi yang ditakuti kaum lelaki?
1. “Saya sudah memikirkannya…”
Bila seorang wanita benar-benar mengatakan dia sudah memikirkannya, berarti permasalahannya serius. Dan kaum pria dapat menebak, apa yang akan dibicarakan si wanita biasanya menyangkut masalah perkawinan, atau yang paling pahit, si wanita minta putus hubungan.
Bentuknya bisa bermacam-macam, seperti, “Kenapa kamu menyintai saya?” dan “Pernahkah kamu memikirkan tentang masa depan kita?” Nah, kalau sudah begitu, kaum pria harus pandai-pandai mengalihkan pembicaraan kekasihnya.
2. “Bisa, enggak, bersikap lebih jantan?”
Tidak ada yang lebih menyakitkan dibandingkan kejantanan seorang pria disinggung atau dipermasalahkan. Umumnya kaum pria bakal mengallihkan perhatian dan mengatakan, “Bagaimana kalau kamu yang bersikap lebih feminin dan berhenti mengomel?”
3. “Orang tuaku mau ketemu kamu.”
Hal ini dapat berarti:
- Hubungan mengarah pada tingkatan yang serius.
- Secara psikologis, si pria sedang jadi pusat perhatian keluarga kekasihnya.
4. “Maaf, saya sedang sakit kepala.”
Artinya, malam ini tidak ada acara berhubungan intim. Bila Anda melihat istri tidak berbohong dan dia memang sedang lelah pada saat gairah Anda sedang tinggi, berikan obat pusing dan doakan agar dia cepat sembuh.
5. “Kok, enggak kayak pacar saya yang dulu, ya?”
Pada umumnya pria tak pernah membicarakan mengenai mantan di depan pacar barunya, kecuali jika “dipaksa” bercerita. Jadi, pria merasa tidak siap bila pasangannya menyebutkan mantannya di depannya. Soalnya, berarti sedang dibanding-bandingkan dengan pria lain.
6. “Kamu sedang mikirin apa, sih?”
Wanita memang selalu ingin tahu. Mereka ingin tahu apa yang dipikirkan dan dirasakan kaum pria. Mereka sering berprasangka yang tidak-tidak. Di sisi lain, para pria tidak mau membahasnya dan lebih memilih diam.
7. “Menurut kamu, dia cantik, ya?”
Pasangan memergoki Anda sedang memperhatikan seorang wanita seksi, cantik, dan menarik. Bila Anda menjawab, “Enggak, biasa-biasa saja,” wanita akan tahu Anda berbohong dan hasilnya pasti akan saling berbantahan. Jawablah dengan diplomatis, misalnya, “Kamu lihat, tidak, betisnya mulus sekali, ya.”
8. “Menurut kamu, ada sesuatu yang berbeda pada diri saya?”
Pria tahu, bakal dapat masalah besar bila menjawab tak tahu. Semakin lama memberi jawaban, akan semakin frustrasi lah si dia. Hal ini justru makin membuat pria bingung dan akhirnya karena tak ingin membuat suasana jadi tak enak, si pria menjawab asal saja, “Oh, kamu baru potong rambut, ya?” Yang terjadi, si dia makin kesal karena ternyata bukan rambutnya yang baru dipotong, melainkan ia memakai sepasang anting baru!
9. “Saya perlu bicara.”
Setiap orang tahu, kok, kata-kata ini biasanya diikuti oleh kalimat yang kurang menyenangkan. Tiga kata ini merupakan pertanda adanya masalah dalam sebuah hubungan. Pertanda akan putusnya suatu hubungan atau paling tidak diskusi yang panjang mengenai bagaimana pria tidak dapat memenuhi kebutuhannya. Atau sebaliknya, sangat tidak menyenangkan.

Dipublikasi di pasangan | Tinggalkan Komentar

13 Cara Komunikasi Terpuji Suami-Istri (2)

komunikasi

7. Membandingkan
Perlakukan setiap orang sebagaimana Anda ingin diperlakukan. Sikap membeda-bedakan hanya akan merusak komunikasi antara Anda dan lawan bicara. Ingat, tindakan lebih keras daripada kata-kata. Bila mengatakan suatu hal dan bersikap sebaliknya atau bila berperilaku berdasar prinsip yang Anda terapkan kepada orang-orang di sekitar tetapi tidak Anda terapkan kepada diri sendiri, maka kontradiksi ini akan tampak dan membuat orang tersinggung dan marah.
8. Berperilaku negatif yang dramatis
Hal ini hanya akan menambah api di dalam sekam, terutama bila komunikasi yang berlangsung merupakan komunikasi penting dan peka. Yang diperlukan adalah ketenangan, kepala dingin, dan membicarakan masalah tanpa rasa marah.
9. Menggunakan bahasa negatif
Bahasa emosional yang negatif seperti, “Kamu tidak pernah mendengar apa yang saya katakan” atau “Kamu selalu mengatakan itu” atau “Kamu betul-betul membenci saya” atau “Kamu memang tidak mau mendengar” semua ini merupakan contoh bahasa emosional yang negatif. Bahasa ini tidak memberikan jalan keluar.

Jangan ucapkan kata-kata seperti “tidak pernah” dan “selalu” bila berbicara. Sebaliknya, katakan “Kadang-kadang saya merasa kamu tidak terlalu memperhatikan apa yang saya katakan. Apa pendapat kamu mengenai apa yang saya katakan tadi?”. Dengan demikian Anda akan mengetahui apakah lawan bicara memperhatikan atau tidak apa yang Anda katakan.
10. Tidak menghargai sikap positif
Kesalahan seperti ini juga sering dilakukan. Misalnya, Anda minta pasangan atau lawan bicara untuk mengubah nada suaranya bila berbicara dengan Anda. Anda memintanya agar berbicara lebih manis.

Bila akhirnya pasangan atau lawan bicara mengikuti kehendak Anda, Anda justru mengatakan, “Tumben kamu baik, jangan-jangan ada sesuatu yang kamu mau. Kamu pikir saya bodoh!” Banyak sekali contoh mengenai hal ini. Oleh karena itu, bila Anda meminta sesuatu dan akhirnya mendapatkannya, hargai dan jangan mencelanya. Sebaliknya, katakan terima kasih karena ia telah bersedia memenuhi permintaan Anda. Hargai usahanya.
11. Sama dan sejajar
Contohnya, Anda berbicara dengan pasangan dan pembicaraan menjadi semakin sulit dan mulai bersitegang. Pada saat Anda mengatakan dia memperlihatkan sikap yang bermusuhan, responnya justru Anda yang memperlihatkan sikap demikian padanya. Lalu pada saat Anda bertanya kepadanya, “Perilaku saya yang bagaimana yang membuat kamu merasa terganggu?”

Lawan bicara hanya mengatakan bahwa pertanyaan yang Anda ajukan merupakan pertanyaan yang bodoh dan dia tidak mau membicarakannya. Jangan berkomunikasi untuk mendapatkan persamaan atau untuk membalas dendam. Hal ini tidak akan berhasil dan efeknya adalah merusak hubungan. Bila merasa salah, minta maa dan minta ia mengoreksinya. Misalnya, “Saya merasa tidak senang kalau kamu menaruh baju kotor ddi atas tempat tidur. Lain kali jangan lakukan lagi, ya.”
12. Berbohong
Apakah Anda senang bila dibohongi? Apakah Anda berharap orang yang dekat dengan Anda berbohong pada Anda? Jawabannya pasti “Tidak”. Oleh karena itu, pastikan Anda jujur. Dengan cara ini, otomatis Anda memberi contoh dan memberi gambaran ingin agar orang di sekitar Anda jujurpada Anda dan bila tidak, Anda berhak untuk mengeluh. Tetapi bila Anda tidak jujur maka Anda tidak berhak untuk mengeluh. Kejujuran merupakan cara yang terbaik dan hanya satu-satunya cara untuk meyakinkan bahwa Anda mendapatkan apa yang Anda perlukan.
13. Membiarkan campur tangan dari luar
Bila situasi menjadi lebih keruh dan harus diatasi, bicarakan langsung pada pasangan. Terutama bila ada hal yang perlu Anda jelaskan agar tidak terjadi kesalahpahaman. Tidak ada gunanya membicarakan masalah seseorang kepada orang lain sebelum Anda menyelesaikan permasalahannya dengan orang yang bersangkutan.

Dipublikasi di pasangan | Tinggalkan Komentar